Setelah Palestina dan Lebanon, Israel Lancarkan Serangan Udara di Suriah yang Tewaskan 9 Orang

SULTON.ID – Israel kembali menjadi sorotan dunia. Setelah melakukan aksi brutal terhadap warga Palestina di Masjid Al-Aqsa dan melancarkan serangan di perbatasan Lebanon, kini Israel melakukan serangan udara di Kota Damaskus, Suriah.

Serangan udara yang dilancarkan pada Rabu (27/4/2022) pagi itu, telah menewaskan 9 orang tentara Rusia.

“Israel melakukan seranga udara saat fajar. Mereka menargetkan beberapa titik di wilayah Damaskus,” ungkap Lembaga Militer Suriah sebagaimana dilansir dari Arabnews.com.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) mengatakan bahwa target sasara Israel merupakan titik-titik strategis yang di dalamnya hadir militer Iran.

Sejak kekacauan di Suriah pada 2011 lalu, Israel tercatat melakukan ratusan serangan udara di sana, yang menargetkan posisi rezim serta pasukan sekutu yang didukung Iran dan kelompok militan Syiah, Hizbullah.

Pada awal Maret lalu, dua pasukan dari Garda Revolusi Iran tewas dalam serangan Israel terhadap sasaran di Suriah. Korps Garda Revolusi Islam adalah sayap ideologis militer Iran dan memegang kekuasaan politik serta ekonomi yang cukup besar di negara itu.

Sementara Israel sendiri jarang mengomentari serangannya, mereka mengakui serangannya telah meningkat ratusan sejak 2011. Tentara Israel mengatakan itu diperlukan untuk mencegah Iran mendapatkan pijakan di perbatasan Israel.

Konflik di Suriah dimulai dengan penindasan brutal terhadap aksi protes damai dan meningkat untuk menarik kekuatan asing dan ekstrimis.

Konflik ini telah menewaskan hampir 500.000 orang dan menelantarkan setengah dari populasi negara Suriah. Sebagian besar korban adalah akibat pemboman wilayah sipil oleh rezim Assad dan sekutunya Rusia.

Dalam briefing kepada Dewan Keamanan PBB pada hari Selasa, utusan khusus PBB untuk Suriah Geir Pedersen memperingatkan konflik di Ukraina tidak boleh mengalihkan perhatian dari situasi mengerikan di Suriah.

“Suriah adalah konflik panas, bukan konflik beku,” katanya.

Dia mencatat insiden yang terjadi bulan ini di Suriah yang melibatkan angkatan bersenjata Israel, Turki, Rusia dan Amerika Serikat.

“Saya khawatir salah satu dari titik hotspot ini dapat lebih diperburuk oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di luar Suriah,” kata Pedersen.

Intervensi militer Rusia dalam konflik Suriah pada tahun 2015 mengubah gelombang mendukung Bashar al-Assad, yang pasukannya pernah hanya menguasai seperlima dari negara itu.

Related posts