Inggris Alami Krisis Biaya Hidup Dasar, Inflasi Pangan Menuju 10 Persen

Icon Kota London, Inggris. (foto: pixabay/derwiki)

SULTON.ID – Tercatat, sebanyak empat dari lima orang Inggris, kini khawatir tentang biaya hidup dan bagaimana mereka memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari makanan hingga energi.

Bank of England menyebut kondisi ini sebagai kiamat bagi konsumen.

Menurut sebuah survei yang dirilis Sky News dan dimuat CNBC International, Selasa (17/5/2022) dari 2.000 warga Inggris, 89 persen merasa khawatir tentang bagaimana krisis biaya hidup akan mempengaruhi negara secara keseluruhan selama enam bulan ke depan. Sementara 83 persen khawatir tentang keadaan pribadi mereka.

“Mereka yang berpenghasilan rendah lebih khawatir. Mereka yang berpenghasilan di bawah US$ 25 ribu menggambarkan diri dengan ‘sangat prihatin’ tentang bagaimana akan memenuhi kebutuhan tahun ini,” disampaikan dalam survei itu.

Dinyatakam pula bahwa sebuah perusahaan katering mengatakan sekolah-sekolah sekarang menghadapi keputusan sulit apakah akan mengurangi ukuran makanan atau menggunakan bahan-bahan berkualitas lebih rendah di tengah melonjaknya harga.

Kenaikan harga dan kelangkaan ini juga diperparah dengan perang Rusia dan Ukraina. Bagaimana tidak, Ukraina merupakan ‘keranjang roti’ Eropa.

Akibat perang dengan Rusia, Ukraina tak mampu mengekspor biji-bijian, pupuk, hingga minyak sayur. Saat ini pertempuran masih berlangsung dan menghancurkan ladang tanaman dan mengganggu panen negara itu.

“Maaf karena ‘kiamat’ yang terjadi saat ini, tapi ini jadi fokus kami,” tegas Gubernur Bank of England, Andrew Bailey.

Sementara, saat diwawancara radio BBC, Ketua merk makanan kelas atas di Inggris, Archie Norman mengatakan tidak heran dengan kondisi yang harus dihadapi konsumen.

“Tidak mengherankan melihat inflasi harga pangan sepanjang tahun berjalan menuju 10 persen,” kata Archie Norman.

Krisis ini sendiri juga diperparah oleh keputusan India yang melarang ekspor gandum. Indonesia pun disebut mengambil peran karena melarang ekspor minyak sawit.

Sementara itu, dalam laporan terbaru, Inggris mencatat inflasi tertinggi sepanjang 40 tahun terakhir sebesar 9 persen. Ini merupakan yang tertinggi sejak pencatatan dimulai pada tahun 1989, melampaui kenaikan tahunan 8,4 persen yang terjadi pada Maret 1992 dan jauh di atas 7 persen yang tercatat pada Maret 2022.

Related posts