China Kembali Dihantam Gelombang Covid-19, Sektor Manufaktur Indonesia Bisa Kena Imbas

SULTON.ID – Gelombang pandemi Covid-19 kembali menghantam sejumlah wilayah di China, khususnya Ibu Kota Beijing dan Shanghai.

Bahkan pemerintah China juga telah memberlakukan kebijakan pembatasan aktivitas orang untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang lebih luas.

Kondisi China tersebut diprediksi bisa berimbas secara langsung bagi sejumlah sektor ekonomi nasional.

Koordinator Wakil Ketua Umum III Kadin bidang Maritim Investasi dan Luar Negeri, Shinta W. Kamdani mengatakan, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia akan sangat bergantung pada peningkatan atau penurunan proliferasi lockdown di China.

“Selama sentra manufaktur di China masih bisa beroperasi normal, saya rasa efeknya terhadap laju PMI kita tidak akan terlalu signifikan begitupun sebaliknya,” katanya seperti dilansir dari kontan, Senin (9/5/2022).

Namun sebaliknya, apabila sentra produksi manufaktur China mengalami gangguan yang lebih besar, kemungkinan besar juga akan berimbas pada penurunan laju peningkatan kinerja manufaktur di Indonesia.

Selain itu, jika ada penurunan kinerja manufaktur di China, menurut Shinta juga akan sangat mungkin mengganggu kinerja ekspor dan surplus neraca perdagangan di Indonesia. Dikhawatirkan ekspor besi, baja serta ekspor komoditi seperti batu bara ke China juga akan cenderung menurun.

“Hal ini dikarenakan industri manufaktur nasional sedikit banyak tergantung pada ekspor dan supply input produksi manufaktur dan barang modal dari China. Namun kita untungnya sedikit tertolong dengan kenaikan harga komoditas global, khususnya untuk komoditas energi batubara dan CPO sehingga surplus dagang masih bisa dipertahankan,” jelas Shinta.

Shinta yang juga merupakan B20 Chair pada Presidensi Indonesia itu pun mengatakan kondisi China bisa memicu pelemahan rupiah, gangguan stabilitas supply dan harga komoditas global, serta akan menjadi tekanan terhadap kinerja manufaktur dan pemulihan ekonomi nasional.

Bahkan dia menyebut, saat ini komunitas pelaku usaha nasional sudah sangat mewaspadai kecepatan inflasi nasional serta global agar tidak “out of control” atau “diekspor” ke Indonesia melalui perdagangan (penggelembungan beban impor).

“Apalagi di tingkat nasional ada isu tersendiri yang mendukung peningkatan kecepatan kenaikan inflasi nasional yang bisa berdampak sangat negatif terhadap suruh sektor usaha nasional, khususnya UMKM,” tadasnya.

Untuk Shinta berharap agar pemerintah dapat terus melakukan intervensi kebijakan yang sesuai untuk memastikan laju inflasi nasional dapat terus dijaga di level yang stabil, agar pelaku usaha yang masih berjuang untuk menormalisasi kinerja pasca dua tahun pandemi ini tidak mendapat tekanan yang lebih besar lagi.

Related posts